Jumat, 31 Agustus 2012

MODUL METODOLOGI PENELITIAN


Diktat Kuliah

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh

Drs. Yohannes Suraja, M.Si. MM

Dosen Prodi Sekretari

ASMI Santa Maria Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AKADEMI SEKRETARI DAN MANAJEMEN MARSUDIRINI

(ASMI) SANTA MARIA

YOGYAKARTA

 

 

BAB 1

PENELITIAN

 

 

 

           

A.    Pengertian Penelitian

 

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1999, 1028) penelitian diartikan sebagai kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.  Hadi (1993, 4) mendefinisikan penelitian sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan prosedur dan metode-metode ilmiah. Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa penelitian merupakan suatu proses atau rangkaian yang pada intinya terdiri dari kegiatan-kegiatan pengumpulan (penemuan) data, pengolahan data, analisis data dan penyajian  data penelitian. Namun biasanya, sebelum penelitian dilakukan peneliti menyusun rencana penelitian (proposal rencana penelitian), dan setelah yang bersangkutan menyelesaikan penelitian, dibuatlah laporan penelitian.

 

B.     Jenis-Jenis Penelitian

 

 Hadi (1993, 3) menglasifikasikan jenis-jenis penelitian sebagai berikut :

1.      Penelitian menurut bidangnya misalnya riset pendidikan, riset sejarah, riset bahasa, riset ilmu teknik, riset biologi, riset ekonomi, riset sosial, riset politik, dsb.

2.      Penelitian menurut tempatnya terdiri riset laboratorium, riset perpustakaan, dan riset kancah.

3.      Penelitian menurut pemakaiannya terdiri riset murni dan riset terpakai/aplikatif

4.      Penelitian menurut tujuan umumnya meliputi riset eksploratif, riset pengembangan, dan riset verifikatif.

5.      Penelitian menurut tarafnya terdiri riset deskriptif dan riset inferensial.

6.      Penelitian menurut pendekatannya : riset longitudinal (studi jangka panjang) dan riset cross sectional atau time series.

 

Singarimbun (1982, 4-8) menyebutkan berbagai jenis penelitian seperti penelitian eksperimen, penelitian evaluasi, penelitian dasar, penelitian verifikasi, grounded research, analisis data sekunder, survai, poll, dan sensus.

 

Penelitian eksperimen sangat sesuai untuk menguji hipotesa tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel intervensi atau variabel eksperimen efektif atau tidak. Pelaksanaannya memerlukan konsep dan variabel yang jelas dan pengukuran yang cermat. Penelitian eksperimen mungkin dilakukan di laboratorium, di kelas atau di lapangan. Dalam penelitian eksperimen selalu dituntut supaya terdapat data dasar sebelum suatu program dilaksanakan baik pada kelompok eksperimen maupun pada kelompok pembanding (control group) di mana program tidak dilaksanakan.

 

Penelitian evaluasi (penelitian terapan, penelitian tindakan) mempertanyakan apa yang merupakan masalah pokok dari suatu masyarakat, apa program yang dapat dilaksanakan untuk mengatasi masalah itu, bagimana program itu dapat dilaksanakan, apakah program dilaksanakan sebagaimana direncanakan, sampai seberapa jauh tujuan yang digariskan suatu program tercapai atau mempunyai tanda-tanda akan tercapai. Secara umum terdapat dua jenis penelitian evaluasi yaitu evaluasi formatif dan evaluasi summatif. Evaluasi formatif biasanya melihat dan meneliti pelaksanaan suatu program. Evaluasi summatif biasanya dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur apakah tujuan program tersebut tercapai.

 

Penelitian dasar bertujuan menciptakan pengetahuan baru, menyusun teori-teori baru dan menguji teori-teori yang sudah ada.

 

Grounded research merupakan pendekatan dalam penelitian yang memberlakukan pandangan : “data sebagai sumber teori dan teori berdasarkan data”. Kategori-kategori dan konsep-konsep dikembangkan oleh peneliti di lapangan. Teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Data yang bertambah dimanfaatkan untuk verifikasi teori yang timbul di lapangan, yang terus menerus disempurnakan selama penelitian berlangsung.

 

Penelitian verifikasi merupakan suatu studi yang bertujuan melakukan verifikasi dari teori-teori ataupun hipotesa melalui pendekatan kuantitatif dan tes statistik, yang hasil akhirnya  berupa penerimaan atau penolakan teori atau hipotesa.

 

Analisis data sekunder merupakan penelitian yang memanfaatkan data yang sudah tersedia sehingga studi ini merupakan analisis lanjutan atas data hasil survei, dan dapat pula berupa studi perbandingan dari studi-studi yang telah dilakukan.

 

Survai adalah pengumpulan informasi dari sebagian populasi (sampel) untuk mewakili seluruh populasi. Dalam survai informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Tujuannya dapat bersifat deskriptif ataupun bersifat menjelaskan (menerangkan) fenomena dengan meneliti hubungan antar variabel penelitian.

 

Poll (polling) adalah survai sampel yang terutama menyangkut pendapat umum.

 

Sensus adalah pengumpulan data atau informasi dari seluruh populasi.

 

Selain itu juga dikenal penelitian “Ex Post Facto”, eksperimen, naturalistic, kebijakan, dan sejarah (Sugiyono, 1992, 3).

 

Penelitian ex post fakto adalah penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang melalui data untuk menemukan faktor-faktor yang mendahului atau menentukan sebab-sebab yang mungkin atas peristiwa yang diteliti.

 

Penelitian eksperimen adalah penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel  yang lain dalam kondisi yang terkontrol  secara ketat.

 

Penelitian naturalistic (metode kualitatif) adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alami (lawan eksperimen)  di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), data yang dihasilkan bersifat deskriptif, dan analisis data dilakukan secara induktif. Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

 

Penelitian kebijakan adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan masalah.

 

Penelitian sejarah berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang telah berlangsung di masa lalu,  dan bertujuan merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif melalui pengumpulan, evaluasi, verifikasi, dan sintesa data yang diperoleh, sehingga dapat ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan.

 

C.     Tipe Penelitian

 

Tipe penelitian ini dilihat dari tingkat eksplanasi (bandingkan dengan Sugiyono, 1992, 5; Istijanto, 2006, 8 dan 20).  Singarimbun  (1982, 3-4) menyebutkan 3 tipe penelitian :

 

1.      Penelitian Penjajakan (eksploratori)

Penelitian penjajakan bersifat terbuka, masih mencari-cari dan belum mempunyai hipotesa. Pengetahuan peneliti tentang gejala yang mau diteliti masih sedikit sekali, sehingga dengan penelitian penjajakan masalah penelitian dapat dirumuskan dengan lebih jelas, terperinci, dan hipotesa dapat dikembangkan. Oleh karena itu penelitian penjajakan dilakukan sebagai langkah awal untuk penelitian yang lebih mendalam.

 

2.      Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif biasanya mempunyai dua tujuan. Pertama untuk mengetahui perkembangan suatu fenomena, mengetahui frekuensi terjadinya suatu aspek fenomena tertentu yang hasilnya dicantumkan dalam tabel-tabel frekuensi. Kedua untuk mendeskripsikan secara terperinci fenomena sosial tertentu. Penelitian ini biasanya dilakukan tanpa hipotesa, dan kalau toh menggunakan hipotesa tetapi bukan untuk diuji secara statistik.

 

3.      Penelitian Penjelasan (asosiatif, kausal)

Penelitian penjelasan (explanatory research, confirmatory research, testing research) menyoroti hubungan antara variabel-variabel penelitian dan menguji hipotesa yang telah dirumuskan sebelumnya. Meskipun uraiannya juga mengandung deskripsi, tetapi fokusnya terletak pada penjelasan hubungan-hubungan (relasi-relasi) antar variabel.

 

 

Tabel

Tujuan, Jenis Penelitian, Tingkat Eksplanasi dan Jenis Data Penelitian

           

Tujuan Penelitian
Jenis Penelitian
Tingkat  Eksplanasi
(Tipe Penelitian)
Jenis Data
 
1.Pemahaman
2.Penjelasan
3.Perkiraan
4.Pengontrolan
1.    Survei
2.    Eks Post Facto (setelah terjadi-nya peristiwa)
3.    Eksperimen
4.    Naturalistik
5.    Riset Kebijakan
6.    Riset Tindakan
7.    Evaluasi
8.    Sejarah
9.    dll
 
1.      Murni
2.      Terapan
 
1.      Eksploratif
2.      Deskriptif
3.      Eksplanatif
 
1.   Deskriptif
2.   Komparatif
3.   Asosiatif
1.      Kuantitatif
2.      Kualitatif
3.      Gabungan keduanya

            Sumber :  bandingkan Sugiyono, 1992, 2

 

 

D.    Pendekatan Penelitian Sosial

 

Dalam ilmu sosial dikenal 2 perspektif teoritis yang mendominasi pandangan bidang ilmu sosial ini. Dua perspektif ini yaitu positivisme dan fenomenologik (Bogdan dan Taylor, 1949, 2).

 

Dalam perspektif positivisme, para positivis mencari fakta-fakta ataupun penyebab-penyebab dari suatu fenomena sosial dan sedikit menaruh perhatian pada kondisi subyektif individual. Jadi ilmuwan sosial pada kelompok ini terutama memperhatikan fakta-fakta sosial, perilaku manusia, atau fenomena sosial sebagai hal-hal yang dipengaruhi oleh faktor-faktor atau kekuatan eksternal.

 

Sedangkan dalam perspektif fenomenologik, para fenomenologis cenderung memahami perilaku manusia dari kerangka pikir pemilik atau aktornya sendiri seperti gagasan (ide), perasaan, dan motifnya. Para fenomenologis menguji bagaimana dunia dialami. Bagi mereka realitas yang penting adalah apa yang diimajinasikan orang terjadi.

 

Karena kedua kelompok ilmuwan itu memiliki perspektif berbeda atas masalah dan jawabannya, maka penelitian atau riset yang mereka lakukan juga memiliki metodologi yang berbeda. Para positivis meneliti fakta dan sebab-sebab melalui metode survei dengan kuesioner, penemuan-penemuan kuantitatif dan analisis yang menghasilkan data kuantitatif  dan yang dibuktikan secara statistik untuk menemukan kebenaran hubungan-hubungan antar variabel-variabel operasional. Sedangkan peneliti fenomenologis mencari pemahaman melalui metode-metode kualitatif seperti observasi partisipan, wawancara terbuka, dan dokumen personal. Metode ini menghasilkan data deskriptif yang memungkinkan mereka melihat dunia seperti subyek (pelaku) melihatnya. Jadi data yang dikumpulkan berupa kata-kata, pernyataan atau ungkapan, gerakan tubuh dan wajah, serta perilaku orang-orang yang bersangkutan.

 

Namun demikian bukan berarti para positivis tidak dapat menggunakan metode kualitatif untuk memenuhi kepentingannya. Sebab data deskriptif dapat dipandang sebagai indikator-indikator norma-norma atau nilai-nilai kelompok dan faktor-faktor sosial lain yang menyebabkan atau menentukan perilaku manusia.

 

Dua pendekatan penelitian social tersebut di atas berpengaruh terhadap keberadaan dan perkembangan pendekatan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif dalam ilmu social. Masing-masing pendekatan memiliki karakteristik yang berbeda. Meskipun demikian, dalam diskusi hasil penelitian pendekatan kuantitatif seringkali dikemukan pentingnya peneliti berhasil mengumpulkan dan memperoleh data yang dapat digunakan untuk mendukung interpretasi output pengolah data, dengan memberikan keterangan uraian dan penjelasan obyek penelitian sehingga pembaca hasil atau laporan penelitian dapat memahaminya dengan lebih baik.

 

Menurut Indriartono dan Supomo (1999, 13) terdapat asumsi yang berbeda antara pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Perbedaan yang dimaksudkan dapat dilihat dan dicermati pada table berikut.

 

Tabel 1

Perbedaan Asumsi Pendekatan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

 

Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan Kualitatif
Realitas bersifat obyektif dan berdimensi tunggal
Realitas bersifat subyektif dan berdimensi banyak
Peneliti independen terhadap fakta yang diteliti
Peneliti berinteraksi dengan fakta yang diteliti
Bebas nilai dan tidak bias
Tidak bebas nilai  dan bias
Pendekatan deduktif
Pendekatan induktif
Pengujian teori dengan analisis kuantitatif
Penyusunan teori dengan analisis kualitatif

            Sumber : Indriantoro dan Supomo, 1999, 13

 

E.     Karakteristik Ilmu Sosial dan Penelitian

 

Babbie (1973) seperti dikutip oleh Moeljarto (1981) mengidentifikasi karakteristik ilmu sosial yang perlu diperhatikan pula sebagai kaidah dalam penelitian :

1.      Logik, teratur, dan sederhana (rasional dan orde). Hubungan antar konsep di dalam teori, hubungan antar variabel penelitian dijelaskan secara logis, teratur, dan sederhana sehingga dapat diterima umum.

2.      Deterministik. Ilmu pengetahuan menjelaskan suatu peristiwa. Setiap kejadian di dunia ini ada faktor penyebabnya. Hubungan faktor penyebab ini bersifat deterministic terhadap kondisi atau peristiwa yang menjadi akibatnya.

3.      Umum atau general. Teori ataupun ilmu pengetahuan tertentu itu merupakan hasil pengujian dan penelitian terus menerus yang diakui kebenarannya secara luas yang menggambarkan kenyataan yang ada di dalam suatu populasi, dan diakui kebenarannya  secara umum.

4.      Hemat : sedikit variabel.

5.      Spesifik : konsep dan indikatornya jelas

6.      Dapat dibuktikan secara empiric (verifikatif, testable)

7.      Antar subyek  punya daya replikasi dengan hasil yang sama (valid)

8.      Terbuka bagi adanya perubahan.

 

 

F.      Syarat Peneliti

 

Menurut Hadi (1993, 2) , setiap peneliti perlu memiliki :

1.      Sikap tekun, teliti dan cermat dalam mengumpulkan fakta.

2.      Cerdas, tajam, dan obyektif dalam menganalisis, menginterpretasi dan menarik kesimpulan dari fakta-fakta yang dikumpulkan

 

Peneliti perlu mengusahakan karakteristik seperti itu sebagai kemampuan akademik yang berguna bagi pengembangan ilmu dan pembangunan. Hal ini merupakan faktor yang terkait dengan proses dan hasil penelitian yang dilakukan dan dicapainya. Peneliti yang tekun, teliti, cermat dalam mengumpulkan fakta, cerdas, tajam dan obyektif dalam menganalisis, menginterpretasi dan menarik kesimpulan akan menghasilkan penelitian yang logis, teratur, sederhana, mampu memberikan penjelasan dengan baik atas suatu obyek penelitian, menghasilkan pengujian dan penelitian yang diakui kebenarannya dalam menggambarkan kenyataan obyek penelitian, hemat, spesifik, verifikatif, reliabel, valid, dan terbuka.

 

G.    Pentingnya Penelitian bagi Sekretaris dan Sekretariat

 

Setiap sekretaris termasuk kepala dan pegawai kantor tidak lepas (bebas) dari permasalahan kerja. Ada masalah yang sederhana dan berefek kecil bagi kinerja kantor. Masalah kecil penyelesaian atau pemecahannya tidak memerlukan tindakan penelitian yang mendalam. Tetapi terhadap masalah yang bersifat problematic karena masalahnya berkenaan dengan dan berpengaruh besar terhadap kinerja sekretaris dan kantor, maka perlu dilakukan penelitian eksploratif, deskriptif atau eksplanatif sesuai dengan kadar kompleksitas masalah dan tujuan penelitian pemahaman, penjelasan, perkiraan, dan pengontrolan suatu fenomena.

 

Setiap sekretaris, pegawai dan kepala kantor/sekretariat secara periodik juga mempunyai kewajiban untuk menulis dan menyampaikan laporan kerja. Setiap laporan kerja pada dasarnya menguraikan dan menjelaskan data (fakta) tentang pelaksanaan suatu fungsi, aktivitas, pekerjaan, dan tugas-tugas, dan faktor-faktor yang terkait. Dengan demikian kemampuan meneliti yang dimiliki oleh sekretaris, pegawai dan kepala kantor/sekretariat, sangat membantu mereka dalam menyusun laporan kerja yang benar dan baik, serta memberikan sumbangan yang berarti (signifikan) dalam memelihara dan mengembangkan fungsi dan peran sekretaris/perkantoran/sekretariat bagi pimpinan dan usaha organisasi/perusahaan.

 

 

J. Pertanyaan Evaluasi

 

1.      Apa yang dimaksud dengan penelitian?

2.      Apa yang dimaksud dengan metologi penelitian?

3.      Sebutkan dan terangkan macam-macam dan tipe penelitian?

4.      Identifikasi laporan penelitian KKL Saudara termasuk pada macam dan tipe penelitian yang mana?

5.      Sebutkan tujuan penelitian pada umumnya.

6.      Deskripsikan 2 perspektif yang ada dalam ilmu sosial.

7.      Apa pengaruh 2 perspektif tersebut pada pendekatan penelitian? Jelaskan.

8.      Terangkan perbedaan asumsi pendekatan penelitian kuantitatif dan kualitatif

9.      Sebutkan karakteristik ilmu sosial

10.  Sebutkan manfaat penelitian sosial

Identifikasi syarat atau kualifikasi peneliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proposal rancangan penelitian merupakan rumusan  rencana penelitian yang perlu dibuat oleh peneliti sebelum pengumpulan data. Di dalam proposal rancangan penelitian pada pokoknya disusun antara lain latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode pengumpulan data, metode analisis data, skedul waktu pelaksanaan penelitian, anggaran penelitian, daftar pustaka, dan daftar pertanyaan.konseptualisasi (penentuan konsep dan variabel yang akan diteliti). Di dalam metode penelitian dilakukan operasionalisasi variabel penelitian, pemilihan metode penelitian, dan penentuan sumber data atau populasi, sample, dan responden yang akan diobservasi. Unsur lainnya yang biasa ada dalam proposal rancangan penelitian

 

Pengumpulan data merupakan kegiatan pokok penelitian yaitu menghimpun data dari populasi, sampel, responden atau sumber data dengan menggunakan metode seperti kuesioner, wawancara, observasi, partisipasi, atau documenter. Kuesioner atau daftar pertanyaan dapat digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data.Wawancara adalah kegiatan Tanya jawab yang dalam hal penelitian ini dimaksudkan sebagai instrument untuk mengumpulkan data. Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan terhadap obyek penelitian. Partisipasi sebagai metode pengumpulan data dilakukan peneliti dengan ikut serta terlibat dalam aktivitas sehari-hari dari suatu obyek studi. Sedangkan

 

Analisis data merupakan serangkaian proses pengolahan, penyajian, interpretasi dan atau penjelasan keterkaitan data (antar kelompok data). Setelah peneliti selesai mengumpulkan data, kemudian peneliti melakukan pengolahan data yang meliputi kegiatan seperti tabulasi data, pengklasifikasian data, menginput atau pun menghitung. Data yang merupakan fakta-fakta yang bersifat plural, bervariasi, kompleks, terpencar-pencar, dan tidak teratur harus disusun, diatur, dengan cara-cara seperti ditabulasikan (disusun dalam suatu tabel), dikelompokkan menurut golongan atau klasifikasi menurut jenis dan macam data. Dilihat dari pendekatan system, data adalah unsur input (bahan masukan) bagi proses penghitungan (komputasi) atau pengelompokan data yang dapat dilakukan dengan cara manual atau otomat seperti menggunakan program computer. Proses penghitungan atau pun pengelompokan data menghasilkan informasi. Jadi informasi adalah hasil (output) penghitungan atau pengelompokan data.

 

 

Interpretasi merupakan kegiatan menafsirkan, memikirkan, memberikan makna atas informasi. Jadi informasi yang merupakan hasil pengolahan (penghitungan, pengelompokan) data, perlu diinterpretasikan. Caranya yaitu dengan membandingkan informasi dengan standar, klasifikasi skala ukuran yang dijadikan standar penilaian atau evaluasi, atau pun memaknai informasi berdasarkan teori atau pun pustaka lain yang berkaitan. Dengan melakukan interpretasi terhadap informasi atau hasil dari penghitungan dan pengelompokan data tersebut, peneliti memahami sesuatu hal yang menjadi obyek penelitiannya. Di mana pemahaman ini merupakan suatu tujuan (awal, pertama) dari kegiatan penelitian. Tujuan berikutnya yaitu pencapaian penjelasan, pengontrolan, dan peramalan tentang sesuatu hal yang menjadi obyek penelitian.

 

Penjelasan merupakan upaya memberikan informasi tentang alasan, mengapa dan bagaimana factor-faktor yang diidentifikasi itu terkait dengan focus obyek penelitian. Di dunia ini, termasuk setiap hal, kondisi mengenai satu, beberapa atau banyak hal yang ada atau terjadi di suatu kantor organisasi dan perusahaan, pasti terkait dengan atau disebabkan oleh satu atau lebih factor. Faktor adalah kondisi, kekuatan dari sesuatu hal (barang, manusia, uang, keadaan alam, dan unsur lain yang ada di sekitar) yang dapat menyebabkan atau mempengaruhi keberadaan atau terjadinya sesuatu pada hal lain. Misalnya, karakteristik mengenai barang, pejabat dan pegawai, kemampuan financial suatu organisasi atau perusahaan adalah contoh beberapa factor yang mempunyai kaitan dengan atau yang mempengaruhi keefektifan organsiasi atau perusahaan mencapai tujuannya. Kondisi dari karakteristik factor-faktor terkait yang cenderung baik atau positif menjadi factor pendukung  yang dapat menyebabkan kondisi baik atau positif pencapaian tujuan organisasi. Sebaliknya kondisi karakteristik factor-faktor terkait yang bersifat negative, dapat menjadi factor penghambat bagi pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan.

 

Setelah dilakukan penjelasan hubungan antar kelompok data, maka langkah berikut yang dilakukan peneliti adalah menyusun kesimpulan (meringkaskan) atau inferensi, melakukan generalisasi empiris  dan penyusunan teori. Berdasarkan analisis data, peneliti biasanya juga menyampaikan saran yang dimaksudkan untuk perbaikan penelitian lebih lanjut, perbaikan kebijaksanaan dan praktik yang terkait dengan pokok masalah obyek penelitian.

 

Pelaporan Penelitian

 

Pelaporan penelitian adalah kegiatan menyampaikan laporan penelitian yang dilakukan peneliti kepada pihak yang berkepentingan termasuk kepada pemberi dana. Laporan berisi susunan lengkap dari unsur-unsur seperti pendahuluan, metode penelitian, teori, deskripsi lokasi penelitian, analisis data, kesimpulan, saran, daftar pustaka dan lampiran.

           

 

 

I. Rangkuman

 

Deskripsi tentang tujuan penelitian, jenis penelitian, tingkat eksplanasi dan jenis data hasil penelitian dapat dirangkum sebagai berikut.

 

 

 

 

11.       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TUJUAN PENELITIAN

 

A.    Tujuan Penelitian

 

Tujuan penelitian  yaitu (1) untuk mengembangkan pengetahuan, dan (2) untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan penelitian (Indriantoro dan Supomo, 1999, 3). Tujuan pengembangan pengetahuan atau teori bersifat jangka panjang dan terus menerus. Oleh karena itu peneliti perlu terus menerus melakukan penelitian pada bidang tertentu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang menjadi perhatiannya. Sedangkan tujuan yang kedua bersifat jangka pendek, sesuai dengan rumusan masalah penelitian; dan ini dilakukan melalui penelitian terapan. Penelitian terapan dilakukan  dengan tujuan menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis

 

Dengan penelitian, peneliti berusaha untuk mencapai tujuan ilmu pengetahuan yaitu :

  1. Memperoleh pengertian atau pemahaman (understanding) masalah atau fenomena
  2. Menerangkan/menjelaskan  (explainning) masalah/fenomena
  3. Meramalkan (predicting) masalah/fenomena yang mungkin terjadi di masa depan
  4. Mengontrol (controlling) masalah/fenomena alam/sosioal

 

B.     Manfaat Hasil Penelitian

 

Hasil penelitian dapat berguna untuk :

  1. Membantu memecahkan masalah, menyempurnakan rencana, program, kebijakan, dan pelaksanaannya
  2. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan

 

 

 

Bab 3

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa dapat memahami metodologi penelitian, proses dan metode penelitian (4 macam informasi dan 6 metode yang ada dalam proses penelitian)

 

A. Pengertian Metodologi Penelitian

     

Untuk melakukan penelitian ilmiah, peneliti harus memperhatikan proses dan metode penelitian yang dipelajari di dalam metodologi penelitian. Metodologi penelitian adalah pelajaran yang memperbincangkan proses dan metode-metode ilmiah untuk penelitian (Hadi, 1993, 4). Oleh karena itu, berikut ini secara khusus akan dibahas tentang proses dan metode penelitian tersebut.

 

B.     Proses dan Metode Penelitian

 

Gambar 1

Model Proses Penelitian

MINAT
?                         Y
Y                         ?

GAGASAN
X                 ?         Y
A                 ?         B

TEORI
A         B         E          F
 
       C         D         X       Y

KONSEPTUALISASI
Tentukan konsep dan variabel yang akan diteliti

OPERASIONALISASI
 
Bagaimana variabel penelitian diukur?

OBSERVASI
Kumpulkan data untuk analisis dan penafsiran

PEMILIHAN METODE PENELITIAN
Penelitian lapangan
Content Analisis
Analisis data sekunder
Eksperimen
Penelitian evaluasi
Penelitian survai

PENGOLAHAN DATA
Ubah data untuk analisis

POPULASI DAN SAMPEL
 
Kesimpulan akan di-ambil dari kelompok mana?
 
Siapa yang diobservasi untuk itu?

ANALISIS
Analisis data dan tarik kesimpulan



Sumber : Singarimbun dan Soffian Efendy, 1984

 

Berdasarkan gambar tersebut dapat dikatakan bahwa proses penelitian terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Peneliti mempunyai minat dan gagasan terhadap suatu masalah

Minat atau keinginan untuk meneliti dapat timbul pada waktu peneliti mengetahui suatu masalah atau fenomena tertentu di lingkungan tertentu, yang mendorongnya untuk mencari tahu penyebabnya (mengapa) dan/atau dampak yang ditimbulkannya (apa hubungannya/ pengaruhnya, bagaimana hubungannya/pengaruhnya). Jadi minat dapat timbul dan berkembang setelah peneliti melihat fakta-fakta di  lapangan (masyarakat, perusahaan, organisasi). Minat tersebut mendorong munculnya gagasan untuk meneliti misalnya “Apakah rendanya kinerja pegawai (Y) disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola waktu kerja (X)?”. Jadi berdasarkan minatnya, peneliti mengidentifikasi masalah (topik, pokok masalah, pokok pembicaraan, pokok diskusi) dan latar belakang (faktor-faktor) yang terkait.  Di sini juga dapat dideskripsikan alasan penting dan menariknya masalah untuk diteliti.

 

 

 

 

2.      Peneliti Membatasi Permasalahan Penelitian

Masalah rendahnya kinerja pegawai dapat terjadi oleh karena banyak factor yang terkait atau berpengaruh. Faktor-faktor yang dimaksudkan antara lain pengetahuan kerja, motivasi kerja, ketrampilan kerja, pelaksanaan penilaian pretasi kerja, pembinaan pegawai, kondisi lingkungan kerja. Jadi ada banyak factor yang dapat mempengaruhi terjadinya sesuatu. Oleh karena peneliti mempunyai keterbatasan waktu, pikiran, tenaga, keuangan, referensi dan kondisi lainnya, maka peneliti dapat melakukan pembatasan masalah penelitiannya. Pembatasan masalah dan/atau factor-faktor tertentu yang mau dipilih selain karena alasan tersebut juga didasarkan pada pertimbangan penting dan kuatnya pengaruh masalah dan factor-faktor terkait dengan masalah yang menjadi focus penelitiannya. Di sini peneliti dapat melakukan pembatasan masalah penelitian.

 

3.      Penelitian Merumuskan Masalah Penelitian

Rumusan masalah penelitian menunjukkan minat dan gagasan peneliti pula. Di sini peneliti merumuskan masalah sesuai dengan pembatasan masalah penelitian. Rumusan masalah yang dirumuskan dalam kalimat tanya atau pernyataan (proposisi), adalah rumusan yang ingin dijawab (mendapat jawaban) dari penelitian. Jadi keingintahuan peneliti dirumuskan dalam rumusan masalah penelitian, dan penelitian atau pengumpulan data, jenis data yang hendak dikumpulkan harus diorientasikan dapat menjawab masalahnya.

 

4.      Merumuskan tujuan penelitian

Tujuan penelitian juga merefleksikan minat peneliti pula, yaitu apa yang hendak dituju, dicapai atau dipenuhi dari penelitian. Sejalan dengan tujuan penelitian ataupun ilmu pengetahuan yaitu memahami (understanding), memaparkan (describing), menjelaskan (explaining), meramal (estimating, predicting), dan mengontrol (controlling), maka setiap karya penelitian dilakukan dengan maksud untuk mencapai salah satu atau lebih tujuan tersebut. Tujuan tersebut bagai anak tangga yang bersifat gradual. Jadi penelitian yang ingin menguak pengaruh satu atau lebih factor terhadap sesuatu hal, memiliki kadar ilmiah yang lebih tinggi daripada penelitian yang ingin mendeskripsikan sesuatu fenomena saja, apalagi tujuannya hanya ingin memahami.

 

5.      Peneliti merumuskan Teori

 

Karena sesuatu hal dan masalah itu ada atau terjadi tentu terkait dengan atau dipengaruhi oleh factor-faktor tertentu, maka peneliti harus menyusun teori, yang merupakan uraian dan penjelasan hubungan factor-faktor yang berkaitan dengan permasalahan. Untuk menyusun teori, peneliti menggunakan referensi dari buku, jurnal, laporan penelitian dan sumber pustaka lain yang memuat pendekatan teoritis yang dibutuhkan.

 

Merumuskan teori berarti mendeskripsikan konsep dan menjelaskan hubungan antar konsep atau variabel-variabel dengan mendasarkan pada konsep-konsep beserta uraian dan penjelasannya kepustakaan dan pengalaman lapangan sebagai rujukan dasar penyempurnaan pemikiran.

 

Untuk merumuskan teori dilakukan dengan menggunakan formula urutan “Diterangkan-Menerangkan” (DM). Jadi konsep variable yang merupakan topic penelitian diuraikan lebih dahulu, baru disusun uraian dan penjelasan konsep-konsep variable yang menjadi satu atau lebih factor penjelas (penerang). Variabel tergantung (dependen variable) diuraikan terlebih dahulu, baru disusul uraian faktor-faktor penjelas atau variable bebas (independent variable) beserta rumusan penjelasan hubungan/kausalnya dengan variable tergantung. Misalnya, atas judul tulisan “Analisis hubungan factor-faktor kompetensi pegawai, kemampuan manajerial kepala bagian, dan kondisi fasilitas kerja dengan kinerja secretariat Pemerintah Daerah Kabupaten X”, maka rumusan teorinya disusun dengan urutan sebagai berikut :

a.       Kinerja Sekretariat

b.      Kompetensi Pegawai

c.       Kemampuan Manajerial Kepala Bagian

d.      Kondisi Fasilitas Kerja

 

6.      Menentukan konsep dan variabel-variabel yang akan diteliti (konseptualisasi)

7.      Menentukan pengukuran konsep variabel-variabel penelitian dan indicator-indikator konsep-konsep variabel (operasionalisasi konsep)

8.      Menentukan metode pengumpulan data : kuesioner, pengamatan, wawancara, partisipatif, dokumenter (metode tunggal, metode ganda, triangulasi)

9.      Penentuan populasi, sampel, responden, atau sumber data

10.  Pengumpulan data

11.  Pengolahan data/pengubahan data

12.  Analisis dan penafsiran

13.  Penarikan kesimpulan

14.  Perumusan saran/rekomendasi.

15.  Pelaporan

 

Earl R. Babbie (1979) dan Walter L. Wallace (1973) seperti dikutip oleh Masri Singarimbun dan Soffian Effendi, menggambarkan suatu proses penelitian seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

 

Gambar 1

Skema 4 Unsur Informasi dan 6 Unsur Metode dalam

Proses Penelitian Ilmiah

 

 

 
 
TEORI
 
 
Penyusunan konsep,
Penyusunan proposisi
 
               Deduksi logika
Inferensi Logika
 
 
 
 

 
 
 
GENERALISASI
EMPIRIS


 
 
HIPOTESA
 
Pengukuran,
Penyederhanaan
Informasi dan
Perkiraan parameter
 
                              
                        Interpretasi,
             Penyusunan instrumen,
Penyusunan skala,
Penentuan sampel
 
Pengujian Hipotesa
 
 
 
 
 
OBSERVASI
 
 
 

Sumber : Singarimbun dan Soffian Efendy, 1984

 

 

Pada gambar tersebut ada empat komponen informasi dalam proses penelitian ilmiah yaitu

a. teori,

b. hipotesa,

c. observasi, dan

d. generalisasi empiris.

 

Pada gambar tersebut juga ada 6 metode yaitu :

a.       Deduksi logika, merupakan metode membuat rumusan hipotesa yang diturunkan dari teori. Teori yang bersifat umum dan luas, melalui cara berfikir deduktif (dari umum ke khusus) dirumuskan secara singkat proposisi hipotesa. Dalam penelitian verifikatif, hipotesa dirumuskan. Hipotesa ini yang hendak diuji kebenarannya melalui penelitian.

b.      Interpretasi, penyusunan instrumen, penyusunan skala, dan penentuan sample merupakan metode yang dilakukan peneliti sebelum melakukan observasi. Di sini peneliti antara lain melakukan :

1)      interpretasi untuk menentukan konsep-konsep variable-variabel yang hendak diteliti dari hipotesa yang dirumuskan.

2)      Interpretasi untuk menentukan indicator-indikator atau unsur-unsur dari setiap dimensi konsep-konsep variable-variabel penelitian.

3)      Menyusun instrument penelitian seperti menyusun daftar pertanyaan atau pernyataan berdasarkan indicator-indikator atau unsur-unsur dari setiap dimensi konsep-konsep variable-variabel penelitian.

4)      Menyusun skala kekuatan hubungan atau pengaruh antar variable untuk membantu peneliti melakukan interpretasi hasil pengolahan data dalam rangka menguji hipotesa dan merumuskan generalisasi empiris.

5)      Menyusun skala jawaban setiap pertanyaan instrument penelitian.

6)      Menentukan sample dengan mempertimbangkan prinsip keterwakilan, proporsionalitas, heterogenitas atau homogenitas populasi, 10% populasi atau minimal 50 responden.

c.       Pengukuran, penyederhanaan informasi, dan perkiraan parameter atas hasil observasi, sehingga dapat dirumuskan generalisasi empiris yang dapat diterima kebenarannya.

d.      Penyusunan konsep, penyusunan proposisi berdasarkan generalisasi empiris menjadi teori yang dapat diterima universal.

e.       Pengujian hipotesis (jika memakai hipotesis) untuk merumuskan generalisasi empiris atas hasil observasi.

f.       Inferensi logika, yaitu metode berpikir untuk merumuskan kesimpulan dan teori berdasarkan hasil pengujian hipotesa.

 

 

Berikut adalah bagan tahapan penelitian yang dipetakan oleh Istijanto (2006) yang dapat digunakan pula sebagai pedoman melakukan proses penelitian baik kualitatif maupun kuantitatif.

 

 

 

 

Gambar  3

BaganTahapan Penelitian

 

 
 
 
 
 
 
Penentuan Masalah Riset
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Penentuan Desain Riset
 
 
 
 
 
 
Eksploratori
Deskriptif
Kausal
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Metode Pengumpulan Data
 
 
Sekunder
Primer
 
 
Internal
Eksternal
Kualitatif
Kuantitatif
 
 
Wawan-cara
Fokus Group
Teknik Proyeksi
Survei
Observasi
Eksperimen
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Rancangan Pertanyaan
Rancangan Skala
Rancangan Alat Analisis
 
 
Terbuka
Tertutup
Nominal
Ordinal
Interval
Rasio
Kualitatif
Kuantitatif
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Metode Pengambilan Sampel
 
 
 
 
 
 
Probability Sampling
Non Prabability Sampling
 
 
 
 
 
 
Simple Random
Systematic
Stratified
Cluster
Judgment
Convenient
Quota
Snowball
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Penulisan dan penyampaian proposal riset
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pengumpulan data/kerja lapangan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pengeditan, pengkodean, tabulasi, dan pemrosesan data
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Analisis dan penginterpretasian hasil riset
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Penulisan dan penyampaian laporan akhir
 
 
 
 
 

Sumber : Istijanto, 2006, 8

 

 

 

 

 

 

 

  1. Penulisan proposal desain riset

a.       Penentuan Masalah Riset

b.      Penentuan Desain Riset (eksploratori, deskriptif, kausal)

c.       Penentuan metode Pengumpulan Data (primer, sekunder)

d.      Rancangan Pertanyaan (terbuka, tertutup), Rancangan Skala, Rancangan Alat Analisis

e.       Penentuan metode pengumpulan sample

  1. Pengumpulan data/kerja lapangan
  2. Pengeditan, pengkodean, tabulasi, dan pemrosesan data
  3. Analisis dan penginterpreasian data
  4. penulisan dan penyampaian laporan

 

 

 

 

 

 

 

C.     Menyusun Proposal Penelitian

Proposal penelitian yang berupa rancangan penelitian terdiri dari unsur-unsur :

1. Permasalahan yang berisi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian,

2.  Landasan teori dan hipotesis,

3. Prosedur penelitian yang meliputi penentuan populasi dan sample, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data

4. Organisasi pelaksana penelitian,

5. Jadwal penelitian dan perkiraan biaya penelitian (Sugiyana, 1992, 195; Departemen Pendidikan Nasional, 2000).

 

Pada bab berikut akan diuraikan tentang unsur-unsur proposal penelitian tersebut.

 

 

D.    Pertanyaan Evaluasi

 

      1.      Sebutkan 4 unsur yang ada dalam proses penelitian.

      2.      Sebutkan 6 unsur metode yang ada dalam proses penelitian.

      3.      Deskripsikan tentang proses suatu penelitian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PENENTUAN TOPIK PENELITIAN

 

 

Kompetensi Dasar :

1.      Mahasiswa dapat menyebutkan isi dari setiap unsur proposal penelitian dan mampu merumuskan proposal penelitian tahap demi tahap sesuai urutan unsur-unsur proposal penelitian.

2.      Mahasiswa dapat menyebutkan isi latar belakang masalah, mendefinisikan topic, mampu menentukan masalah (pokok masalah) dan faktor-faktor yang berhubungan dengan/mempengaruhinya dan merumuskannya dalam latar belakang masalah.

 

 

A. Topik dan Latar Belakang Masalah Penelitian

 

Pada intinya latar belakang masalah berisi deskripsi (uraian) tentang (1) masalah, dan (2) latar belakang, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya masalah, dan penjelasannya mengapa dan bagaimana (why, how) factor-faktor tersebut terkait/berpengaruh.

 

Setiap karya penelitian memiliki topik atau pokok masalah tertentu. Oleh karena itu di dalam latar belakang masalah dideskripsikan (diuraikan) data, fakta ataupun informasi yang mengandung dan menunjukkan masalah, atau diuraikan sejarah dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi pada suatu obyek penelitian, yang menampakkan ada penyimpangan-penyimpangan dari standard yang ada, baik standard keilmuan maupuran aturan-aturan. Pada sesuatu hal, keadaan, perilaku, atau kejadian yang menyimpang dari standar di situ masalah ada.

 

Di samping itu juga diuraikan dan dijelaskan latar belakang terjadinya masalah, yaitu faktor-faktor yang terkait dengan (menyebabkan, menjadi sumber terjadinya) masalah. Semua faktor yang terkait disebutkan, diuraikan, dan dijelaskan bagaimana dan mengapa faktor itu terkait dengan (pokok) masalah. Penguraian factor-faktor disusun berurutan berdasarkan kekuatan hubungan atau pengaruh, dari yang dianggap paling kuat hubungan/pengaruhnya sampai dengan yang dipandang kurang kuat hubungan/pengaruhnya.

 

Dalam Subbab “latar belakang masalah” ini juga  perlu diuraikan alasan pentingnya topic/masalah itu ditulis atau diteliti. Alasan praktis pentingnya suatu topik dapat dilihat dalam kaitannya dengan kebijakan, tujuan, pelaksanaan kegiatan, kondisi yang diinginkan, dibutuhkan, atau diharapkan perusahaan atau masyarakat. Dalam kaitannya dengan kepentingan akademik, suatu topik dipilih dengan alasan untuk pengembangan ilmu pengetahuan tertentu.

 

Berikut diuraikan lebih lanjut tentang criteria topic atau masalah penelitian,  proses dan cara menentukan topic penelitian yang diharapkan dapat menuntun dengan tepat dalam merumuskan latar belakang masalah dan judul penelitian.

 

C.     Kriteria Topik/Masalah Penelitian

 

Masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakkan seseorang untuk memecahkannya. Akan tetapi tidak setiap kesulitan dapat diangkat sebagai masalah penelitian. Masalah yang problematik saja yang layak untuk diteliti. Sedangkan masalah yang sederhana dan sudah jelas pemecahannya tidak perlu dilakukan penelitian. Sebagai gambaran kompleksitas masalah, dapat dibandingkan antara orang sakit masuk angin dan orang sakit pusing terus menerus lebih dari seminggu. Sakit masuk angin dapat digolongkan lebih sederhana maka pengobatan atau pemecahannya dapat dilakukan langsung dengan cara minum “antingin”, “diolesi minyak anti angin” atau “kerokan”. Tetapi pusing yang dialami sudah beberapa lama dan berulang-ulang perlu dilakukan observasi untuk menentukan penyebabnya dan kemudian baru dilakukan tindakan pengobatan.

 

Setiap penelitian memiliki topic atau pokok masalah tertentu.Tiga kriteria yang perlu dipenuhi untuk mengangkat suatu topik menjadi suatu masalah penelitian yaitu manageable topic, significant topic, dan interesting topic (Suwandi, 1990, 4). Suatu masalah memenuhi kriteria manageable topic apabila :

1.      Masalah atau topik itu dikuasai oleh peneliti. Peneliti memiliki latar belakang pengetahuan atau kecakapan yang cukup untuk memecahkan masalah itu.

2.      Untuk memecahkan masalah itu ada waktu dan biaya yang cukup.

3.      Ada konsultan untuk memecahkan masalah itu.

4.      Ada pihak yang dapat diajak bekerjasama untuk meneliti masalah itu.

 

Suatu masalah memenuhi kriteria significant topic apabila :

1.      Hasil dari pemecahan masalah itu akan memberikan sumbangan yang cukup berharga baik bagi ilmu pengetahuan yang sudah ada maupun bagi praktik di lapangan.

2.      Masalah yang akan diteliti tidak merupakan duplikasi dari penelitian sebelumnya.

3.      Ada ketidakpuasan terhadap pemecahan masalah yang terdahulu sehingga perlu diadakan penelitian ulang.

4.      Masalah tersebut memiliki “academic interest” yang cukup besar atau mempunyai kegunaan praktis yang sangat mendesak.

 

Suatu masalah memenuhi kriteria interesting topic apabila :

1.      Masalah atau topik itu membangkitkan minat peneliti dan pembaca.

2.      Ada hadiah tersembunyi di balik penelitian itu.

3.      Minat atas masalah atau topik itu muncul karena kepentingan dan relevansi akademik, bukan karena sikap yang bias.

 

Keraf (1984, 112) mengingatkan agar setiap penulis/peneliti harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya harus cukup sempit dan terbatas atau sangat khusus untuk digarap, sehingga uraian tidak akan menjadi kabur. Pembatasan topik sekurang-kurangnya akan membantu penulis dalam beberapa hal :

1.      Memungkinkan penulis untuk menulis dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, karena pokok itu benar-benar diketahuinya.

2.      Memungkinkan penulis untuk mengadakan penelitian yang lebih intensif mengenai masalahnya.

 

E.     Proses dan Cara Penentuan Topik

 

Topik penelitian sosial mengandung unsur fokus dan lokus. Fokus berkenaan dengan satu pokok masalah atau pokok perhatian di antara beberapa atau banyak masalah yang berkaitan dengan bidang/disiplin ilmu tertentu. Lokus berkenaan dengan tempat terjadinya masalah atau tempat dilaksanakan penelitian atas suatu masalah.  Keraf (1984, 113) menuturkan tentang proses dan cara membatasi sebuah topik sebagai berikut :

  1. Tetapkan topik yang ingin digarap dalam suatu kedudukan sentral.
  2. Ajukanlah pertanyaan apakah topik yang berada dalam kedudukan sentral itu masih dapat diperinci lebih lanjut? Bila dapat, tempatkanlah perinciannya itu di sekitar lingkaran topik pertama tadi.
  3. Tetapkanlah yang mana dari perincian tadi yang akan dipilih.
  4. Ajukanlah pertanyaan apakah sektor tadi masih perlu diperinci lebih lanjut.  Demikian dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh sebuah topik yang sangat khusus yang akan digarap lebih lanjut.

 

Contoh : Topik yang dipilih : “Keefektifan Kearsipan di Bagian Personalia

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta”. Prosesnya dapat dilihat pada gambar bagan berikut.

 

Gambar 4

Contoh Proses Pemilihan Topik

“Keefektifan Kearsipan di Bagian Personalia

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta”.

 

FOKUS BIDANG/DISIPLIN ILMU
LOKUS/TEMPAT PENELITIAN
Masalah Kearsipan
Organisasi/Perusahaan
Pegawai Kearsipan
Fasilitas Kearsipan
Kegiatan Kearsipan
Tujuan Kearsipan
 
Keefektifan Kearsipan
Sosial
Profit
Pemerintah
DPR
Rumah Sakit (RS)
Hotel,
Bank,
PT.
Dsb.
Departemen, Pemda Tk. I
Pemda Tk II dll.
Komisi
Sekretariat
RS. Panti Rapih
Bagian Personalia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5

Contoh 2 Proses Penentuan Topik

 “Sistem Informasi Berbasis Komputer di FISIPOL UGM”.

 

FOKUS BIDANG/DISIPLIN ILMU
LOKUS/TEMPAT PENELITIAN
Masalah Komunikasi
Organisasi/Perusahaan
Proses Komunikasi
Media Komunikasi
 
Sistem Informasi Berbasis Komputer
Tujuan Komunikasi
 
 
Sosial
Profit
Pemerintah
DPR
Sekolah
Perguruan Tinggi
 
UGM
Fisipol
 
Hotel,
Bank,
PT.
Dsb.
Departemen, Pemda Tk. I
Pemda Tk II dll.
Komisi
Sekretariat

 

 

Tabel 3

Contoh Bidang Masalah dan Topik Penelitian

 

BIDANG MASALAH
TOPIK
Pemasaran dan penjualan
Konsep produk baru
Promosi penjualan
Perilaku konsumen
Keuangan
Penilaian saham dan obligasi
Analisis rasio keuangan
Merger dan akuisisi
Perilaku Organisasional
Motivasi kerja
Gaya kepemimpinan
Budaya organisasional
Akuntansi Keuangan
Standar akuntansi keuangan
Kebijakan dan metode akuntansi
Kandungan informasi akuntansi
Akuntansi Manajemen
Pengukuran prestasi manajer
Analisis biaya-volume-laba
Pembuatan keputusan investasi
Sistem Informasi
Penerapan system informasi
Sikap manajemen-pemakai
Aplikasi perangkat lunak computer

Sumber :  Indriantoro dan Supomo, 1999, 41

 

F.      TUGAS MAHASISWA

1.      Pertanyaan Evaluasi

a.       Identifikasi isi rumusan dari suatu latar belakang masalah proposal penelitian.

b.      Uraikan beberapa criteria suatu topic penelitian yang perlu dipertimbangkan mahasiswa/peneliti

c.       Terangkan tentang proses dan cara menentukan topic penelitian.

 

 

 

2.      Praktik.

      Mahasiswa menentukan topic rencana tugas akhir atau laporan penelitian dan menyusun latar belakang masalah untuk keperluan proposal penelitian. Hasil pekerjaan dikumpulkan paling akhir pada pertemuan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN :

IDENTIFIKASI DAN PEMBATASAN MASALAH

 

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa memahami maksud identifikasi dan pembatasan masalah, dan mampu merumuskannya sebagai salah satu unsur dalam proposal rencana penelitian.

 

A. Identifikasi Masalah/Pembatasan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang masalah yaitu masalah dan faktor-faktor terkait yang diuraikan dan dijelaskan, kemudian peneliti mengidentifikasi masalah penelitian. Identifikasi masalah berisi semua variabel yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti, serta kedudukan variabel di antara semua variabel itu. Variabel adalah konsep yang dapat diamati. Variabel merupakan proksi atau representasi dari konstruk yang dapat diukur dengan berbagai macam nilai. Dengan kata lain variabel adalah konstruk yang sifat-sifatnya sudah diberi nilai  dalam bentuk bilangan.

 

Dalam penelitian dikenal beberapa tipe kedudukan variabel. Tipe variabel dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi variabel dalam hubungan antar variabel yaitu : variabel independent, variabel dependen, variabel moderating, dan variabel intervening (Indriantoro dan Supomo, 1999, 61-65)

 

Variabel Independen

Variabel independent adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain.

 

Variabel Dependen

Variabel Dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independent.

 

Gambar 6

Contoh Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen

 

 
 
 
 
Pemecahan Saham
(Variabel independent)
 
 
Harga Saham
(Variabel dependen)
 
 
 
 
 

 

 

 
 
 
 
Kompetensi Pegawai Arsip
(Variabel independent)
 
 
Keefektifan Kearsipan
(Variabel dependen)
 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
Status Sosial
(Variabel independent)
 
 
Tingkat Pendidikan
(Variabel dependen)
 
 
 
 
 

 

Variabel Moderating

Variabel moderating (variabel contingency) adalah tipe variabel-variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan langsung antara variabel independent dengan variabel dependen.

 

Gambar 7

Contoh Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen,

dan Variabel Moderating

 

 

 
 
 
 
Partisipapsi
(Variabel independent)
 
Kinerja
(Variabel dependen)
 
 
 
 
 
 
Struktur Organisasional
(Variabel Moderating)
 
 
 

 

Variabel Intervening

Variabel intervening adalah tipe variabel-variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel-variabel independent dengan variabel-variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung. Variabel intervening merupakan variabel yang terletak di antara variabel-variabel independent dengan variabel-variabel dependen sehingga variabel independent tidak langsung menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen.

 

Gambar 8

Contoh Hubungan Variabel Independen , Variabel Intervening,

dan Variabel Dependen

 

 

 
 
 
 
 
 
Partisipasi
(Variabel independent)
Motivasi
(Variabel Intervening)
Harga Saham
(Variabel dependen)
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

B. Pembatasan Masalah Penelitian

 

Setiap masalah yang ada di sekitar kita disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Karena berbagai alasan keterbatasan waktu, dana, tenaga, referensi teori, data dan keadaan lain, penulis dapat membatasi penelitian pada satu masalah dengan satu variabel atau lebih dari satu variabel. Jadi tidak semua variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi dijadikan obyek penelitian, tetapi ditentukan beberapa variabel saja. Beberapa variabel ini kemudian diangkat menjadi judul penelitian, sehingga judul penelitian secara eksplisit berisi sejumlah variabel yang akan diteliti, sesuai yang ada pada batasan masalah.

 

Penulis perlu memberikan alasan mengapa membatasi masalah dan variabel-variabel tertentu dalam tulisan proposal dan laporan penelitiannya.

 

 

C.     Tugas Mahasiswa

1.      Evaluasi Materi

2.      Praktik.

      Mahasiswa merumuskan masalah untuk keperluan proposal penelitian. Hasil pekerjaan dikumpulkan paling akhir pada pertemuan berikutnya.

 

 

 

 

BAB 5

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN :

RUMUSAN MASALAH, TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

 

 

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa memahami maksud dari rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan dapat merumuskannya dalam rancangan penelitian.

 

 

A.    Rumusan Masalah

 

Setelah masalah yang akan diteliti ditentukan dalam batasan masalah (yaitu variabel apa saja yang akan diteliti), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik.

 

Masalah penelitian (tulisan) dapat dirumuskan dalam bentuk “kalimat tanya” (pertanyaan) ataupun dalam bentuk proposisi atau pernyataan. Yang penting diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah bahwa jumlah dan macam variabel  yang terkandung dalam rumusan masalah harus sesuai dengan yang tertulis pada batasan masalah.

 

 

Contoh Rumusan Masalah Deskriptif ( 1 variabel, monovariat)

 

Rumusan masalah dalam bentuk kalimat Tanya.

 

Bagaimana efektivitas kearsipan di Bagian Personalia RS Panti Rapih Yogyakarta?

 

Rumusan dalam bentuk pernyataan(tujuan)

 

Tulisan atau penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan tentang efektivitas kearsipan di Bagian Personalia RS Panti Rapih Yogyakarta.

 

Contoh Rumusan Masalah Penjelasan (Inferensial, bivariat, multivariat) atau lebih dari 1 variabel

 

Rumusan masalah dalam bentuk kalimat Tanya.

 

Apakah faktor-faktor kompetensi karyawan dan motivasi kerja mempunyai kaitan dengan kedisiplinan kerja karyawan PT. Papan Sejahtera Cilacap?

 

Bagaimana tingkat hubungan faktor-faktor kompetensi karyawan dan motivasi kerja dengan kedisiplinan kerja karyawan PT. Papan Sejahtera Cilacap?

 

Bagaimana pengaruh faktor-faktor kompetensi karyawan dan motivasi kerja terhadap kedisiplinan kerja karyawan PT. Papan Sejahtera Cilacap?

 

Contoh Rumusan Masalah dalam Bentuk Pernyataan(tujuan)

           

Tulisan atau penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan faktor-faktor kompetensi karyawan dan motivasi kerja dengan kedisiplinan kerja karyawan PT. Papan Sejahtera Cilacap.

 

Tulisan atau penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan pengaruh faktor-faktor kompetensi karyawan dan motivasi kerja terhadap kedisiplinan kerja karyawan PT. Papan Sejahtera Cilacap.

 

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan  gaya kepemimpinan partisipatif dan faktor situasi lingkungan organisasi dengan efektivitas kepemimpinan Rektor UGM dan UNY.

 

B.     Tujuan Penelitian

 

Tujuan penelitian tidak sama dengan tujuan sampul tesis, skripsi atau laporan seperti untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar atau menyelesaikan studi, tetapi tujuan penelitian berkenaan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang dituliskan. Misalnya rumusan masalahnya adalah “Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A?”, maka tujuan penelitiannya adalah “Ingin mengetahui seberapa tinggi produktivitas kerja pegawai di lembaga A”. Kalau rumusan masalahnya : “Apakah ada pengaruh latihan terhadap produktivitas kerja pegawai?”, maka tujuan penelitiannya adalah : “Ingin mengetahui ada/tidak ada hubungan antara latihan dan produktivitas kerja pegawai, dan kalau ada seberapa besar pengaruhnya?”

 

Secara panjang lebar, jawaban atas pertanyaan itu dijawab di dalam analisis data atau penyajian data, dan secara singkat tertelak pada kesimpulan penelitian.

 

Jadi tujuan penelitian harus sesuai dengan rumusan masalah penelitian.. Peneliti harus memahami bahwa tujuan penelitian memiliki tingkatan kompleksitas. Dari pendekatan statistik dapat dikatakan bahwa tujuan deskriptif dari suatu penelitian berada pada level sederhana; sedangkan tujuan eksplanasi mempunyai tingkat kesulitan lebih. Eksplanasi atau penjelasan hubungan antara dua variabel, lebih sederhana daripada penjelasan hubungan lebih dua variabel. Penjelasan tingkat hubungan lebih sederhana daripada analisis tingkat pengaruh atau regresi, dan seterusnya.

 

Pada penelitian deskriptif (satu variabel, monovariabel, monovariat), pada intinya penelitian diarahkan untuk menguraikan variabel suatu fenomena tertentu, mendeskripsikan perkembangan atau frekuensi suatu fenomena. Sedangkan pada penelitian dua variabel (bivariabel, bivariat) atau lebih dari dua variabel (multivariabel, multivariat), tujuan penelitian tidak berhenti pada penguraian/deskripsi data fenomena penelitian dan variabel terkait atau berpengaruh, tetapi juga  bertujuan menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu variabel terkait dengan/berpengaruh terhadap variabel lainnya, sesuai dengan rumusan masalah yang ingin dijawab melalui suatu penelitian.

 

 

C. Saat Pilihan Penggunaan Metode Kuantitatif atau Kuantitatif Muncul

 

Pilihan peneliti hendak melakukan penelitian kualitatif atau kuantitatif muncul setelah rumusan masalah dan tujuan penelitian mengenai topic ditentukan, yang pada dasarnya memiliki konsekuensi terhadap pendekatan yang dipilih atau metode yang digunakan.

 

Contoh rumusan masalah penelitian dengan pendekatan dan metode kuantitatif :

1.      Seberapa tinggi tingkat eksposure televisi di kalangan para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah?

2.      Seberapa tinggi latar belakang pribadi mempengaruhi tingkat motivasi  menonton televisi?

 

Contoh tujuan penelitian dengan pendekatan dan metode kuantitatif :

1.      Mendeskripsikan tingginya tingkat eksposure televise di kalangan para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah.

2.      Menjelaskan tingkat pengaruh latar belakang pribadi terhadap tingkat motivasi  menonton televise.

 

Contoh rumusan maslah penelitian dengan pendekatan dan metode kualitatif :

1.      Motif-motif apa saja yang mendasari para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah?

2.      Jenis-jenis acara tv apa yang banyak digemari oleh para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah?

 

Contoh tujuan penelitian dengan pendekatan dan metode kualitatif :

1.      Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan motif-motif yang mendasari para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah.

2.      Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis acara tv yang banyak digemari oleh para lanjut usia di Kompleks Perumahan Bantaran Indah ( diolah dari Pawito, 2007, 45).

 

G.    Manfaat Hasil Penelitian

 

Manfaat atau kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari pelaksanaan penelitian dan pencapaian tujuan. Manfaat dari suatu penelitian yaitu :

      1.                                                            Untuk pengembangan ilmu pengetahuan (pengembangan teori).

            2.                  Untuk membantu memecahkan masalah, mengantisipasi masalah, untuk memperbaiki kebijakan, atau pun untuk memperbaiki praktik pelaksanaan kerja, kondisi kehidupan dan pembangunan.

 

Jadi manfaat proses dan hasil penelitian yang dilaporkan dapat dirasakan dan dialami oleh penulisnya sendiri maupun dunia ilmu, obyek penelitian, perusahaan, pemerintah, peneliti lain, dan pihak lain yang memanfaatkan laporan penelitian. Seorang mahasiswa menulis laporan penelitian merasakan kegunaan seperti semakin mendalami masalah sekitar ilmu pengetahuan yang diteliti, dan dampak dalam rangka menyelesaikan studi. Dosen mungkin mendapatkan manfaat laporan penelitian untuk keperluan peningkatan kualitas fungsi pengajaran dan pengabdian masyarakat. Perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dapat mengambil manfaat dari penulisan laporan untuk mengusulkan penyusunan atau revisi kebijakan, memperbaiki praktik kerja, menyempurnakan situasi kehidupan dan sebagainya.

 

 

BAB 6

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN :

LANDASAN TEORI

 

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa memahami maksud teori, dapat menyusun (landasan, garis besar) teori dan menggunakannya dalam proses penelitian.

 

A.    Pengertian Teori

 

Menurut Kerlinger (Indriantoro dan Supomo, 1999, 57; Rachmat, 2005, 6) teori merupakan suatu kumpulan konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena. Berdasarkan definisi teori tersebut terdapat 3 karakteristik teori yaitu :

1.      Teori merupakan suatu kumpulan konstruk, konsep, definisi, dan proposisi.

2.      Teori menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel (konsep, konstruk).

3.      Teori bertujuan untuk menjelaskan, memprediksi fenomena.

 

Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus. Misalnya merah, hijau, hitam digeneralisasikan sebagai “warna”; membaca buku,  mendengarkan kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah disebut “belajar”, dsb.  Bila konsep ini secara sengaja dan secara sadar dibuat serta dipergunakan untuk tujuan ilmiah, ia disebut konstruk. Misalnya “kecerdasan” adalah “konsep”, tetapi setelah pengertiannya dibatasi (didefinisikan) secara khusus sehingga dapat diamati, ia berubah menjadi konstruk. Dengan perkataan lain konstruk (dimensi) adalah konsep yang dapat diamati dan diukur.  Mengukur konsep yang abstrak menjadi konstruk yang dapat diukur disebut operasionalisasi (mengoperasionalisasikan). Misalnya “terpaan media” (media exposure) dioperasionalisasikan sebagai frekuensi individu dalam menonton tv, film, membaca surat kabar, majalah, dan mendengarkan radio. “Lapar” dioperasionalisasikan sebagai perasaan sakit setelah tidak makan selama 24 jam (Rachmat, 2005, 12).

 

Semua konsep bersifat abstrak. Peneliti harus mengalihkan konsep abstrak itu menjadi variabel yang dapat diamati. Dapat dikatakan variabel adalah bentuk baru dari konsep abstrak menjadi sesuatu yang dapat diamati. Variabel merupakan proksi atau representasi dari konstruk (dimensi-dimensi) yang dapat diukur dengan berbagai macam nilai. Dengan kata lain variabel adalah konstruk yang sifat-sifatnya sudah diberi nilai  dalam bentuk bilangan. Contoh variabel antara lain : sikap, motivasi, prestasi akademik, absensi. Misalnya untuk mengukur variabel “pemarah” kita dapat membuat skala dari 1 s.d. 5, di mana (1) sangat tidak pemarah, dst (5) sangat pemarah. Konstruk “jenis kelamin” yaitu laki-laki, perempuan. Konstruk lima sikap untuk “sikap pada pemerintah” yaitu (1) sangat suka (2) suka (3) tidak tahu (4) benci (5) sangat benci (Rachmat, 2005, 12).

 

           

B. Implikasi bagi Peneliti

 

Implikasi pengertian teori beserta unsur-unsurnya tersebut di atas bagi peneliti adalah bahwa pada pokoknya peneliti ketika menyusun teori (landasan teori, garis besar teori) harus (1) menetapkan konsep, konstruk, variabel penelitian, (2) mendefinisikan konsep, konstruk, variabel, (3) menentukan dimensi-dimensi konsep/variabel atau konstruk,  (4) memberikan penjelasan hubungan antar konsep, konstruk, variabel penelitian.

 

 

BAB 7

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN :

HIPOTESA PENELITIAN

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa memahami maksud dari hipotesa penelitian, dan dapat merumuskan hipotesa penelitian di dalam rancangan penelitian.

 

 

A. Pengertian Hipotesa

 

Dalam model tradisional ilmu, kita melihat bagaimana dari kasus-kasus observasi kita simpulkan sebuah teori melalui proses induksi. Selanjutnya, dari teori kita dapat menjabarkan proposisi-proposisi baru melaui proses deduksi. Teori tidak dapat diuji. Supaya dapat diuji, teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi seperti ini disebut hipotesis. Hipotesis adalah proposisi (statement) dari teori dalam bentuk yang dapat diuji, atau suatu proposisi tentative tentang realita (Champion, 1981 dalam Rachmat, 2005, 13-14).

 

Contoh  teori  yaitu “Kemampuan pegawai arsip yang baik memungkinkan terjadinya Keefektifan kearsipan yang baik”. Dari teori ini dapat disusun hipotesis misalnya sebagai berikut :

b.      Makin baik kemampuan pegawai arsip, makin baik keefektifan kearsipan.

c.       Tingkat kemampuan pegawai arsip yang tinggi menimbulkan tingkat keefektifan kearsipan yang tinggi pula.

 

B. Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik

 

1.      Jelas secara konseptual

2.      Mempunyai rujukan gejala empiris.

3.      Bersifat spesifik, sehingga “hipotesis yang besar/umum, harus dijabarkan dalam subhipotesis yang spesifik”.

4.      Konsep yang terkandung di dalam hipotesis mempunyai teknik mengukurnya, ada ukurannya, atau ada indeksnya.

5.      Harus berkaitan dengan teori (mendukung, meneguhkan atau menolak teori).

 

C. Penelitian Kualitatif : Tidak Menguji Hipotesa

 

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang sejak awal peneliti merancang penelitian dan telah memfokuskan pada  varia-ble-variabel tertentu dengan ketat dengan mengajukan hipotesa, penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan tanpa hipotesa. Sebab penelitian kualitatif tidak membatasi pada variabel-variabel tertentu agar pemberian pemahaman atas gejala atau realitas dapat tuntas.Pemahaman gejala dilakukan peneliti dengan melakukan pembatasan kasus dan atau konteks dari gejala atau realitas sehingga hal-hal seperti konsep apa yang digunakan dan apa maknanya serta variabel apa saja yang ada dan bagaimana pula hubungan antara variabel satu dengan variabel lain baru dapat didefinisikan setelah peneliti melakukan pengamatan, memperoleh data, dan kemudian menganalisinya.

 

BAB 8

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN :

OBSERVASI DAN PENGUMPULAN DATA

 

 

Kompetensi Dasar :

Mahasiswa memahami maksud dari observasi atau pun pengumpulan data, dan mampu menyiapkan instrumen, prosedur dan metode yang diperlukan untuk pelaksanaan observasi atau pengumpulan data.

 

  i.      Observasi dan Pengumpulan Data

 

Observasi adalah suatu kegiatan pengumpulan data untuk suatu tulisan ilmiah. Observasi merupakan pengamatan langsung kepada suatu obyek yang diteliti yang dapat dilakukan dalam waktu tertentu.

 

Observasi dapat dilakukan mendahului pengumpulan data melalui angket atau penelitian lapangan. Dalam hal ini observasi bertujuan tunuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai obyek penelitian sehingga dapat disusun daftar pertanyaan (kuesioner) yang tepat atau dapat menyusun suatu desain penelitian yang cermat. Sebaliknya observasi dapat juga dilakukan sesudah pengumpulan data melalui angket atau wawancara. Dalam hal ini tujuan observasi adalah untuk mengecek sendiri sampai di mana kebenaran data dan informasi yang telah dikumpulkan.

 

Observasi bertalian sangat erat dengan permasalahan deskripsi. Bila penulis/peneliti sanggup menggambarkan semua bagian obyek penelitiannya secara terperinci, maka tulisannya mencerminkan kecermatan dan kesegaran. Keterperincian dari bagian-bagian yang digambarkan itu harus dinyatakan dalam istilah-istilah yang khusus. Kecermatan pengamatan yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk menguasai pula pilihan kata yang tepat, khususnya istilah-istilah yang mempunyai sangkut-paut dengan cerapan pancaindera (Keraf, 1984, 162-163).

 

B. Sumber Data

 

  1. Macam-Macam Data

Dari sudut pandang statistik, data dapat dibagi menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif (Santoso, 2000, 4-5).

a.             Data kualitatif adalah sebuah data yang dinyatakan dalam bentuk bukan angka, misalnya jenis kelamin atau gender yaitu pria dan wanita; jenis pekerjaan seperti petani, nelayan, pedagang, pegawai; tingkah sekolah yaitu SD, SMP, SMP, Perguruan Tinggi); status pernikahan yaitu kawin dan tidak kawin; tingkat kepuasan seperti sangat puas, puas, cukup puas, kurang puas, dan tidak puas. Data kualitatif harus dikuantifikasi atau diubah (dimanipulasi) menjadi data kuantitatif dengan cara memberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5 agar bisa diolah dengan statistik.

 

      Data kualitatif dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu, data nominal dan data ordinal. Data nominal (data berskala nominal) adalah data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi. Ciri data nominal yaitu : posisi data setara (tidak lebih tinggi/rendah), tidak bisa dilakukan operasi matematik (x, /, -, +). Contoh data nominal : pegawai negeri diberi tanda 1, pegawai swasta diberi tanda 2, wiraswasta diberi tanda 3.

      Data ordinal (data berskala ordinal) adalah data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi tetapi di antara data tersebut terdapat hubungan. Ciri data ordinal yaitu : posisi data tidak setara atau mengandung gradasi, dan tidak bisa dilakukan operasi matematis. Misalnya tingkat kepuasan pegawai memiliki level tidak puas, kurang puas, cukup puas, puas dan sangat puas masing-masing diberi tanda 1, 2, 3, 4 dan 5.

b.      Data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka misalnya usia seseorang, tinggi seseorang, penjualan dalam sebulan, jumlah pegawai, jumlah computer, jumlah mesin tik, jumlah almari arsip dan sebagainya.

      Data kuantitatif dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu data interval dan data rasio. Data interval (data berskala interval) adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran, di mana jarak dua titik pada skala sudah diketahui. Misalnya

-          Air membeku dan mendidih antara 00-1000 C atau 320-2120 F

-          Jarak antara 1-10 Januari adalah 10 hari.

 

      Ciri data interval yaitu tidak ada kategorisasi atau pemberian kode seperti data kualitatif (nominal dan ordinal), dan bisa dilakukan operasi mmatematik misalnya 60 C– 30 C = 30 C.

 

      Data rasio (data berskala rasio) adalah data yang diperoleh dengan cara pengukuran, di mana jarak dua titik pada skala sudah diketahui, dan mempunyai titik 0 yang absolute yang berarti tidak ada sama sekali. Misalnya di almari arsip ada 0 artinya tidak ada arsip di dalamnya; di suatu kantor ada 4 pegawai, berarti ada 4 orang pegawai. Ciri data rasio adalah tidak ada kategorisasi atau pemberian kode seperti data kualitatif, dan bisa dilakukan operasi matematis.

 

      Jenis data kualitatif dan kuantitatif berpengaruh pada pemilihan prosedur statistik yang akan digunakan dalam analisis data. Data jenis kuantitatif akan menggunakan prosedur statistik parametric seperti uji t, uji F dan sebagainya; sedangkan data kualitatif cenderung mengarah pada statistik non parametric seperti uji Wilcoxon, Kruskal-Wallis, Median dan sebagainya.

 

                  Statistik parametric berhubungan dengan inferensi statistik (pengambilan keputusan atas masalah tertentu) yang membahas parameter-parameter populasi seperti rata-rata, proporsi dan sebagainya. Ciri parametric adalah jenis data interval atau rasio, serta distribusi data (populasi) adalah normal atau mendekati normal.

 

Pada statistik non-parametrik, inferensi statistik tidak membahas parameter-parameter populasi. Ciri non-parametrik adalah jenis data nominal atau ordinal, serta distribusi data (populasi) tidak diketahui atau tidak normal.

 

 

2. Sumber Data

 

Berdasarkan sumbernya data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari sumber utama (pertama) atau responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber lain seperti laporan penelitian, laporan kerja, koran, majalah, arsip.

 

C.  Prosedur Pengumpulan Data

 

1.      Persiapan

Tahap persiapan ini meliputi pembuatan daftar pertanyaan dan menyiapkan alat lain untuk pengumpulan data atau merekam data seperti kamera, kaset, tape recorder, alat tulis dll.

 

Prosedur Berpikir Dalam Membuat Daftar Pertanyaan

a.       Menentukan Konsep variabel

b.      Mendefinisikan konsep variabel

c.       Menentukan dimensi-dimensi konsep variabel

d.      Menentukan unsur-unsur indikator dimensi konsep variabel

e.       Membuat pertanyaan

f.       Menentukan jawaban untuk pertanyaan tertutup.

 

2.      Pelaksanaan

Prosedur pelaksanaan pengumpulan data penelitian :

a.       Mengajukan ijin penelitian kepada instansi Pemerintah seperti Bappeda dan Dinsospol Propinsi/Kota/Kabupaten atau

b.      Mengajukan ijin penelitian kepada pimpinan perusahaan/organisasi.

c.       Melakukan pengumpulan data setelah  surat ijin diterima : wawancara, menyerahkan kuesioner, melakukan partisipasi, pengamatan. Untuk wawancara peneliti perlu melakukan perjanjian tentang waktu dan tempat yang disepakati bersama dengan responden. Bila data diperoleh melalui kuesioner, setelah menyerahkan kuesioner atau daftar pertanyaan kepada responden, peneliti perlu melakukan perjanjian waktu kapan kuesioner dapat diambil kembali.

 

3. Metode Pengumpulan Data

 

Untuk mengumpulkan data, peneliti dan pembantunya dapat menggunakan beberapa metode. Metode-metode pengumpulan data berdasarkan pendekatan atau model penelitian dapat diklasifikasikan seperti tampak pada table berikut.

 

Tabel 4

Metode Pengumpulan Data

Menurut Pendekatan Penelitian

 

PENDEKATAN PENELITIAN
METODE PENGUMPULAN DATA
 
Pendekatan kuantitatif
Daftar pertanyaan tertutup
Dokumenter
Pendekatan kualitatif
Daftar pertanyaan tertutup
Daftar pertanyaan terbuka
Wawancara
Partisipasi
Dokumenter
Observasi

 

4. Alat Ukur dalam Penelitian

           

Alat ukur merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur fakta atau data variabel penelitian. Bentuk dari alat ukur yaitu daftar pernyataan atau daftar pertanyaan yang sifatnya operasional, jelas, sesuai dengan kejadian, fakta di lapangan. Jadi alat ukur dapat disusun dalam bentuk kalimat biasa (pernyataan) atau kalimat pertanyaan. Alat ukur (pernyataan, pertanyaan) dapat dibedakan menjadi dua yaitu tertutup dan terbuka. Alat ukur terbuka adalah pernyataan dan pertanyaan yang disusun dengan memberikan ruangan (spasi) bagi responden untuk menuliskan keterangan atau jawaban. Sedangkan alat ukur tertutup adalah pernyataan dan pertanyaan yang disusun dengan dilengkapi alternatif keterangan atau jawaban, dan dengan demikian responden tinggal memilih keterangan atau jawaban yang sesuai dengan fakta yang dialami/dihadapi.

 

Alat ukur yang terbuka lebih cocok (dapat) digunakan untuk mengumpulkan data dengan wawancara. Sedangkan alat ukur yang tertutup biasanya digunakan untuk kebutuhan survei, meskipun tidak menutup kemungkinan di dalam pernyataan atau pertanyaan tertutup, juga diberi kesempatan dan ruang (spasi) untuk memberikan keterangan tambahan (terbuka). Namun apabila data yang dikumpulkan hendak diolah dan dianalisis semata-mata dengan pendekatan kuantitatif dengan metode matematis atau statistik, maka keterangan tambahan itu kurang bermanfaat. Tetapi keterangan tambahan tersebut sangat berguna untuk menajamkan analisis ataupun interpretasi data yang dilakukan.

 

5. Proses Penyusunan Alat Ukur

 

Daftar pernyataan atau pertanyaan untuk penelitian/pengumpulan data dapat dilakukan melalui proses sebagai berikut :

a.       Tentukan konsep variabel-konsep variabel penelitian.

b.      Definisikan setiap konsep variabel penelitian.

c.       Tentukan dimensi-dimensi setiap konsep variabel penelitian

d.      Tentukan indikator-indikator dari setiap dimensi konsep variabel

e.       Susun pertanyaan berdasarkan indikator-indikator.

 

Berdasarkan proses tersebut, maka susunan daftar pertanyaan yang baik berurutan dan sesuai dengan klasifikasi dimensi dan konsep variabel penelitian. Dan berdasarkan urutan pembahasan teori, maka daftar pernyataan atau daftar pertanyaan dari dimensi-dimensi konsep variabel tergantung (variabel dependen yang ditentukan dari pokok masalah, topik) disusun terlebih dahulu, baru kemudian disusul daftar pernyataan atau daftar pertanyaan dari dimensi-dimensi konsep variabel penjelas (variabel bebas, variabel independen).

 

Tabel 5

Perbedaan Data Kualitatif dan Kuantitatif

 

KRITERIA
DATA KUALITATIT
DATA KUANTITATIF
Sifat
Bervariasi/tidak terstruktur
Berpola/terstruktur
Tujuan
Cenderung untuk pemaham-an (riset eksploratori)
Cenderung untuk kesimpul-an (riset konklusif)
Informasi yang dihasilkan
Mendalam, mungkin sekali disertai berbagai faktor yang melandasinya
Generalisasi untuk mewa-kili semua populasi
Jumlah data yang dikumpulkan
Relatif sedikit
Banyak, minimal 50 sampel (10% populasi)
Alat analisis
Kualitatif, non statistic
Kuantitatif, statistik

Sumber : Istijanto, 2006, 37

           

 

 

 

 

Tabel 6

Perbedaan Proses

Penelitian Kuantitatif dan Kualiitatif

 

 
Kuantitatif
Kualitatif
Tujuan
Melakukan telaah pustaka untuk mengemukakan teori yang relevan yang kemudian dideduksikan pada gejala yang hendak diteliti untuk kemudian peneliti membangun hipotesa dan mengupayakan operasionalisasi konsep serta pengukuran.
 
Memberikan penjelasan, mengontrol gejala-gejala,  melakukan prediksi, atau menguji teori.
Melakukan jelajahan lite-ratur guna menemukan beberapa hal misalnya gam-baran bagaimana penelitian dengan topic yang sama atau mirip telah dilakukan oleh peneliti lain, yang mungkin juga akan diguna-kan atau setidaknya diang-gap relevan, dan temuan-temuan empiric oleh peneli-ti lain yang mungkin dapat dirujuk.
Menemukan acuan definisi konsep-konsep penting yang digunakan serta penje-lasan aspek-aspek apa yang tercakup ti dalamnya.
Memperoleh pijakan untuk dapat mengemukakan pen-jelasan-penjelasan teoritik tentang pendekatan-pende-katan yang digunakan pene-liti dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan pe-nelitian.
Memperoleh acuan dalam upaya mengidentifikasi dan mengemukakan justifikasi mengenai ruang lingkup dari gejala yang diteliti.
Memperoleh ilustrasi pene-litian sejenis baik dilihat dari segi metode dan atau prosedur penelitian yang digunakan maupun temuan-temuan yang dihasilkan peneliti lain.
Mengemukakan gambaran  (deskripsi) dan/atau pema-haman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu realitas terjadi.
Menyusun teori.
Hipotesa
Sejak awal merancang penelitian peneliti telah memfokuskan pada  varia-ble-variabel tertentu dengan ketat dengan mengajukan hipotesa
Tanpa hipotesa. Tidak membatasi pada variabel-variabel tertentu agar pemberian pemahaman atas gejala atau realitas tuntas.
Pemahaman gejala dilaku-kan peneliti dengan mela-kukan pembatasan kasus dan atau konteks dari gejala atau realitas sehingga hal-hal seperti konsep apa yang digunakan dan apa makna-nya serta variabel apa saja yang ada dan bagaimana pula hubungan antara va-riable satu dengan variabel lain baru dapat didefini-sikan setelah peneliti mela-kukan pengamatan, mem-peroleh data, dan kemudian menganalisinya.
Penggunaan data pada analisis data dan kesimpulan
Data kuantitatif
 
Ketika peneliti mencari pengertian yang lebih luas dari data penelitiannya, pe-neliti membandingkan hasil analisisnya dengan kesim-pulan peneliti lain dan dengan menghubungkan kembali hasil inferensinya dengan teori.
Dapat menggunakan data angka dan data statistik untuk memperjelas pengga-mbaran tentang tendensi-tendensi  gejala yang dite-liti.
 
Telaah pustaka tetap dilakukan pada saat peneliti mencoba mengupayakan analisis data dan hendak menarik kesimpulan.
Metode Penelitian
Survei
Polling
Sensus
Studi Kasus
Pengamatan
Observasi/Etnografi
Partisipatif/Berbaur
Semiotika (sasarannya teks, symbol, lambang, wacana)
Analisis wacana/discourse
Focus group interview
Wawancara mendalam (In-depth interview)
Pengambilan sample dan data
Logika keterwakilan/repre-sentativeness dari populasi. Setiap individu dari popu-lasi diperlakukan sama (random, acak) untuk diambil menjadi sample.
Responden merupakan indi-vidu yang benar-benar me-ngetahui persoalan yang diteliti atau prinsip representativitas informasi atau data (keakuratan informasi/data).
Prinsip triangulasi data dan sumber (sumber data dan informasi bervariasi untuk memperolah data dan informasi bervariasi) untuk memperolah validitas pada tingkat yang lebih tinggi.
Prinsip-prinsip pengambilan sample :
Convenience sampling (peneliti mengambil siapa saja), Maximum variation sampling (keluasan atau ke-ragaman sample),  Snowball sampling (pengambilan sample semakin besar seiring dengan perjalanan waktu pengamatan), Theo-retical construct sampling (teorinya bernuansa deduk-tif, menggunakan aspek-aspek tertentu yang dikandung dalam konsep/ konstruk dan sampelnya diusahakan orang yang belum dikenal peneliti, antar subyek sample saling memiliki jalinan, subyek terartikulasi dalam inter-view), Typical case sampling (sample mewakili kelompok dengan sifat tipikal atau kasus yang menonjol.
Pengumpulan data
Data numeratif
Informasi kategori substan-tif
Data dari interview, obser-vasi, dokumen, teks, foto, karya seni (prinsip triang-ulasi)
 
Analisis data
Pengkodean data, tabulasi data, pengolahan data dengan teknik tatistik, interpretasi hasil pengolah-an data, inferensi hubungan data yang diteliti
Maksud analisis data yaitu hendak memberikan makna terhadap data, menafsirkan, mentransformasikan data dalam bentuk narasi/ proposisi ilmiah (thesis).
Kesimpulan
Kesimpulan merupakan ge-eralisasi/proposisi ilmiah yang berlaku umum untuk seluruh populasi.
 
Kesimpulan didasarkan pa-da bukti-bukti empiric pada logika matematik, prinsip-prinsip bilangan, ataupun teknik-teknik anali-sis statistik.
Kesimpulan didapat dengan bertolak pada data yang ada dan bukan generalisasi, tetapi gambaran interpretif tentang realitas/gejala yang diteliti secara holistic dalam setting tertentu.
 
Kesimpulan didasarkan pada kategori-kategori substantive  dari makna-makna atau interpretasi terhadap gejala yang diamati. Datanya berupa hal-hal yang bersifat diskursif (seperti transkrip dokumen, catatan lapangan, hasil wawancara, dokumen tertulis) dan data non-diskursif (seperti candi, patung, diorama, monumen, arsitektur bangunan, foto, musik, video, gerakan, fashion, hidangan makanan) yang dikonversikan ke dalam bentuk narasi de-skriptif sebelum dianalisis, diinterpretasi, dan disimpul-kan.

            Sumber : Pawito, 2007, 35-38, 81

                           Singarimbun dan Sofian Effendi, 1984, 214

 

 

 

BAB 9

ANALISIS DATA

 

Metode analisis data yang akan digunakan oleh peneliti sudah dapat diketahui sejak perumusan masalah dan penentuan tujuan penelitian. Sesuai dengan pendekatan ilmiah yang berkembang yaitu kualitatif dan kuantitatif, maka uraian tentang analisis data yang diuraikan di bagian ini terdiri analisis kualitatif dan analisis kuantitatif sesuai klasifikasi analisis seperti berikut ini.

 

A. Klasifikasi Macam/Jenis Analisis Penelitian

1.      Analisis Kualitatif yang berupa analisis data sekunder dan analisisis deskriptif.

                         a.      Analisis data sekunder yaitu telaah (pendahuluan) terhadap data sekunder yang dikumpulkan untuk mengklarifikasi masalah-masalah (pada tahap awal persiapan penelitian).

                        b.      Analisis deskriptif yaitu transformasi data ke dalam bentuk yang mudah dipahami seperti dalam bentuk tabel, melalui proses menyusun, mengurutkan, dan memanipulasi data untuk menyajikannya dalam informasi deskriptif, dan kemudian diinterpretasikan.

2.      Analisis Kuantitatif dengan pendekatan statistik yang meliputi :

                         a.      Analisis statistik deskriptif untuk melihat frekuensi, tendensi setral (rata-rata, median, modus), dan dispersi (deviasi standar dan varian).

                        b.      Analisis bivariat adalah metode-metode statistik deskriptif dan inferensial yang digunakan untuk menguji perbedaan atau mengukur hubungan antara dua variabel penelitian.

                         c.      Analisis dependensi adalah metode-metode statistik multivariate yang menjelaskan dan memprediksi variabel dependen berdasarkan dua atau lebih variabel independent.

                        d.      Analisis diskriminan adalah metode statistik untuk menentukan kombinasi linier dari variabel-variabel independent yang menunjukkan perbedaan rata-rata kelompok untuk memprediksi pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap satu variabel dependen yang memiliki dua atau lebih kategori mutually exclusive.

                         e.      Analisis faktor adalah metode statistik untuk meringkas informasi yang dihasilkan dari proses pengukuran berupa konsep-konsep dalam jumlah banyak menjadi sejumlah dimensi atau konstruk yang lebih kecil.

                         f.      Analisis interdependensi adalah metode-metode statistik multivariate yang digunakan untuk mengetahui struktur dari sekelompok variabel atau obyek.

                        g.      Analisis multivariate adalah metode-metode statistik deskriptif dan inferensial yang digunakan untuk menganalisis data dari tiga atau lebih variabel penelitian.

                        h.      Analisis regresi berganda adalah metode statistik yang digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independent terhadap variabel dependen dengan skala pengukuran interval atau rasio dalam suatu persamaan linier.

                          i.      Analisis univariat adalah metode-metode statistik deskriptif dan inferensial yang digunakan untuk menganalisis data dari satu variabel penelitian.

                          j.      Analisis of variance adalah analisis untuk menguji pengaruh perlakuan (treatment) pada satu variabel terhadap variabel dependen yang diukur dengan skala interval atau rasio; atau untuk menguji perbedaan rata-rata di antara dua tau lebih kelompok dalam suatu variabel penelitian.

 

3.      Analisis Data Kualitatif/Non Statistik

 

Metode analisis data berarti teknik-teknik yang dapat digunakan untuk membuat makna/arti dan mempelajari ratusan bahwa ribuan pernyataan-pernyataan dan perilaku yang terekam di dalam catatan lapangan. Analisis data menunjukkan suatu proses  usaha mengidentifikan tema-tema dan mengkonstruk/menguji hipotesis (ide-ide)  seperti yang disarankan data dan suatu usaha untuk menunjukkan dukungan  terhadap tema-tema dan hipotesa-hipotesa itu. Hipotesis yang dimaksudkan di sini adalah pernyataan-pernyataan proposisional. Hiipotesis ada yang sederhana dan kompleks. Contoh hipotesis sederhana “Kinerja pegawai administrasi di Perusahaan X tinggi”. Contoh hipotesis yang kompleks “Kinerja pegawai administrasi di Perusahaan X tinggi karena motivasi dan kompetensi kerja mereka yang tinggi”. Maksud hipotesis adalah untuk menyatakan satu kondisi perilaku didalam setting dan interaksi sosial untuk membantu seseorang memahami fenomena yang tidak diketahui sebelumnya.

 

Analisis dimaksudkan untuk menyusun data secara sistematis untuk membantu memahami dan menginterpretasikan.

 

Analisis dimulai segera setelah peneliti meninggalkan lapangan, yaitu ketika data masih segar dan menarik.

 

Peneliti harus menguji data dengan berbagai cara untuk memahami signifikansi umum dari setting. Meskipun tidak ada formula tepat yang memungkinkan peneliti mengkonstruk hipotesis dan mengenal tema. Saran-saran berikut berguna :

a.       Baca catatan-catatan lapangan. Kumpulkan semua data (catatan lapangan, komentar peneliti, dan bahan lainnya) dan baca secara cermat. Bila mungkin usahakan orang lain membaca semua data.

b.      Beri kode topic konversasi penting seperti “attendants; training”, “pay”, programming for residents”, cleaning the ward”, and “superior”.

c.       Susun tipologi-tipologi atau klasifikasi skema yang berguna membantu membentuk hipotesa dan discovering tema.

d.      Baca literature yang terkait dengan minat dan latar belakang penelitian.

e.       Tentukan asumsi teori. Teori memberikan suatu  kerangka kerja penjelasan dan interpretasi yang memungkinkan peneliti membuat berartinya data dan untuk menghubungkan data dengan kejadian dan latar belakang lainnya.

 

 

B. Analisis Data Kuantitatif

 

Analisis data adalah proses atau rangkaian kegiatan mengkode, mengolah, meringkas, menyederhanakan, menginterpretasikan dan menghubungkan data satu sama lain sehingga dapat menunjukkan kebenaran hipotesa (bandingkan dengan Effendi dan Singarimbun, 1984, 213). Mengkode adalah memberikan symbol/kode seperti angka pada setiap jawaban untuk setiap pertanyaan atau variabel dalam kuesioner. Mengolah data adalah proses melakukan tabulasi dan koreksi (editing) data dari setiap variabel penelitian. Pengolahan data meliputi  rangkaian kegiatan (1) menentukan variabel untuk ditabulasi (2) tabulasi, dan (3) editing atau koreksi kesalahan data (Tukiran dkk, dalam Effendi dan Singarimbun, 1984, 191). Tabulasi dapat dikatakan sebagai upaya penyederhanaan data menjadi informasi. Interpretasi adalah pemberian keterangan, penjelasan, kesan, sorotan, pendapat atau pandangan teoritis terhadap data dan hubungan antar data variabel penelitian, serta upaya mencari pengertian yang lebih luas dari data penelitian dengan membandingkan hasil analisis dengan kesimpulan peneliti lain, dan dengan menghubungkan hasil inferensinya dengan teori. Jadi interpretasi dimaksudkan untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas dari data hasil penelitian. Inferensi adalah kesimpulan atau penarikan kesimpulan, yang merupakan ikhtisar atau ringkasan dari uraian (deskripsi) dan penjelasan hubungan variabel-variabel penelitian.

 

Analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik statistika. Penggunaan teknik statistika sangat efektif, yaitu kita memperoleh jawaban dari pertanyaan tanpa merasakan adanya subjektivitas dalam hasil analisis.

 

 

 

Macam-Macam Uji Statistik

 

1.            Uji non-parametrik untuk data nominal. Data nominal  adalah data yang biasanya diberi nama atau dikategori menurut pengamatan dan tidak berhubungan dengan sifat lebih besar atau lebih kecil satu sama lainnya. Contoh data jenis kelamin.

2.            Uji non-parametik sangat sesuai untuk data ordinal pula. Data ordinal  adalah data yang disusun menurut tingkat yang menggambarkan suatu sifat, prestasi atau penampilan. Data ordinal dicirikan dengan hubungan lebih besar dari, sama dengan, dan kurang dari. Misalnya data tingkat kecantikan dari 1 s.d. 10 atas sepuluh pelamar wanita.

3.            Uji parametric seperti uji Z, uji t, dan uji F paling sesuai untuk data rasio dan interval. Data interval dan rasio adalah data yang dapat ditempatkan sepanjang rangkaian atau skala di mana jarak antara angka adalah sama. Data mentah yang dimiliki pada kategori ini dicirikan oleh hubungan-hubungan lebih besar dari, sama dengan, atau kurang dari dan tambahan keistimewaannya dalam hal kesamaan jarak antara interval-intervalnya. Perbedaan utama antara data interval dan rasio terletak pada perlakuan angka nol. Data yang berada pada tingkat interval dapat ditetapkan angka nol yang fleksibnel dengan pengertian, nol tidak berarti nol mutlak, artinya tidak ada dalam cirri atau penampilan yang diukur. Sedangkan data yang diskala dengan skala rasio, angka nol adalah mutlak, yaitu faktor yang diukur tidak ada.

 

Contoh data interval adalah skor yang diperoleh dari tes prestasi dengan soal-soal mempunyai tingkat kesukaran yang sama. Skor yang diperoleh melalui tes sikap yang menggunakan skala Likert (sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju) biasanya dipertimbangkan sebagai data interval wallaupun pada dasarnya adalah ordinal.

 

Contoh data rasio  adalah kilogram untuk timbangan, senti meter untuk ukuran panjang, dan hamper semua pengukuran fisik untuk massa, kepadatan, volume, kecepatan, tekanan dan semacamnya.

 

H.    Penyajian/Presentasi Data (The Presentation of Findings)

 

Penyajian data merepresentasikan kulminasi proses penelitian. Tujuan penelitian  adalah tidak hanya meningkatkan pemahaman tetapi juga untuk membagikan pemahaman kepada orang-orang lain. Laporan penelitian ditulis untuk menjelaskan pemikiran dan menguatkan argument logika peneliti atas suatu masalah.

 

Laporan penelitian (juga artikel, monograf), harus merupakan suatu  penyajian data yang deskriptif dan analitis, yang dikumpulkan dan diinterpretasikan secara tekun dan sistematis. Pelaporan data tergantung pada sejumlah faktor :

    1. Kondisi data, topic, tema dan hipotesa.
    2. Perspektif teori yang akan menjadi tuntunan dalam menginterpretasikan.
    3. Tujuan. Apakah penelitian hanya mengenai topic tertentu atau mengenai aspek-aspek tertentu, atau ingin menguatkan temuan yang disajikan orang lain, atau ingin memberi sumbangan terhadap perubahan atau reformasi.

 

  1. Generalisasi empiris.

 

Generalisasi  adalah suatu pernyataan (proposisi) yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang semacam, adalah benar atau berlaku pula untuk kebanyakan dari peristiwa atau hal yang sama.

 

Berdasarkan gejala-gejala yang sama dapat diambil kesimpulan bahwa barang-barang lain yang belum kita selidiki, tetapi memiliki sifat-sifat yang sama dengan peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala yang sama tadi, pasti memiliki sifat-sifat yang serupa. Tanpa generalisasi pengalaman-pengalaman hanya akan merupakan akumulasi fakta-fakta yang terpisah satu dari yang lain.

 

Generalisasi adalah sebuah proses berpikir yang esensiil. Tanpa generalisasi tidak akan ada evaluasi terhadap pengalaman-pengalaman. Sebab itu dalam membuat sebuah generalisasi harus benar-benar diperhatikan apakah peristiwa-peristiwa yang dipakai cukup banyak dan meyakinkan. Bila barang yang dipakai sebagai dasar generalisasi tidak relevan maka generalisasi akan pincang, akan ditolak oleh akal sehat. Berapa banyaknya fakta yang diperlukan, tergantung dari maksud tulisan kita.  Sering untuk membuktikan sesuatu hal cukup diajukan tiga atau empat contoh, tetapi sering pula harus disertakan contoh-contoh yang lebih banyak untuk mempertahankan generalisasi itu.

 

Pada waktu membuat generalisasi, penulis/peneliti  agar berhati-hati mempergunakan kata-kata seperti : selalu, tidak pernah, semua, tidak ada, benar atau salah. Generalisasi semacam ini disebut generalisasi luas. Generalisasi luas ini sangat berbahaya, tetapi di samping itu generalisasi sempit pun mengandung bahaya yang sama besarnya. Baik generalisasi luas maupun sempit, berasal dari keinginan yang sama untuk mencapai konklusi tanpa berusaha mengumpulkan data-data.

 

Contoh generalisasi yang berlebihan : “orang-orang yang luar biasa radikal pada masa mudanya selalu menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan”, tetapi yang baik “pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan” (Keraf, 1984, 54-56).

 

  1. Sistematika Laporan.
  2. Kesimpulan

 

Kesimpulan dibuat biasanya merupakan pendapat singkat peneliti berdasarkan hasil dan pembahasan pada bagian sebelumnya. Berdasarkan kesimpulan yang dibuat, peneliti selanjutnya biasanya membuat rujukan beberapa hasil penelitian sebelumnya untuk perbandingan apakah temuan penelitiannya mendukung atau menolak hasil temuan penelitian-penelitian sebelumnya (Indriantoro dan Supomo, 1999, 234).

 

  1. Rekomendasi

 

Rekomendasi atau saran pada penelitian berbeda antara penelitian dasar dan terapan. Rekomendasi pada penelitian dasar dimaksudkan sebagai masukan untuk penelitian-penelitian berikutnya yang menggunakan topik sejenis dengan penelitian yang sedang dilaporkan. Sedangkan rekomendasi pada penelitian teerapan biasanya berupa saran-saran untuk pembuatan kebijakan atau penentuan tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki masalah (bandingkan Indriantoro dan Supomo, 1999, 235).

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, BPFE, Yogyakarta, 1999

 

Istijanto, Riset Sumber Daya Manusia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006

 

Keraf, Gorys, Komposisi, Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores, 1984

 

Moleong Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002

 

Mulyono, Hadi, Metodologi Riset Bisnis, Badan Penerbit IPWI, Jakarta, 1998

 

Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, PT LKiS, Yogyakarta, 2007

 

Rakhmat Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005

 

Bogdan, Robert dan Steven J Taylor, Introduction To Qualitative Research Methods, John Wiley & Sons, Inc., Toronto, Canada, 1975

 

Sevilla, Consuelo G. dkk, Pengantar Metode Penelitian, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1993

 

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metoe Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1984

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar